The Hedonic Treadmill
kenapa pencapaian besar hanya memberikan kebahagiaan sesaat bagi otak kita
Mari kita ingat-ingat lagi momen itu. Momen ketika kita akhirnya mendapatkan apa yang sudah bertahun-tahun kita idam-idamkan. Mungkin itu gawai keluaran terbaru yang harganya menguras isi tabungan. Mungkin itu surel penerimaan kerja di perusahaan impian. Atau mungkin sesederhana balasan pesan dari orang yang paling kita kagumi. Saat hal itu terjadi, dunia terasa begitu sempurna. Kita merasa, "Oke, kalau saya sudah dapat ini, saya tidak butuh apa-apa lagi. Saya pasti akan bahagia selamanya." Tapi, mari kita jujur pada diri sendiri. Berapa lama perasaan mabuk kepayang itu benar-benar bertahan? Seminggu? Sebulan? Lalu pelan-pelan, gawai mahal itu kembali menjadi sekadar alat komunikasi biasa. Pekerjaan impian itu kembali menjadi tumpukan beban dan tenggat waktu. Kita kembali ke titik awal. Merasa hampa. Lalu mulai mencari target baru yang lebih besar untuk dikejar. Pertanyaannya, apakah ada yang salah dengan diri kita karena seolah tidak pernah merasa cukup?
Tenang saja, teman-teman. Kita tidak sendirian, dan otak kita sama sekali tidak rusak. Jauh pada tahun 1978, sekelompok peneliti psikologi melakukan sebuah studi klasik yang hasilnya cukup membuat dahi berkerut. Mereka membandingkan tingkat kebahagiaan dua kelompok manusia yang nasibnya seolah berada di ujung kutub yang berbeda. Kelompok pertama adalah para pemenang undian lotre bernilai miliaran. Kelompok kedua adalah korban kecelakaan tragis yang mengalami kelumpuhan total. Di awal kejadian, grafiknya sangat bisa ditebak. Pemenang lotre melonjak kegirangan, sementara korban kecelakaan terpuruk dalam depresi yang dalam. Namun, beberapa bulan kemudian, sesuatu yang aneh terjadi. Saat para peneliti kembali mengukur tingkat kebahagiaan mereka, kedua kelompok ini ternyata sudah kembali ke level kebahagiaan awal mereka sebelum kejadian. Para miliarder baru itu tidak lagi merasa hidupnya luar biasa. Sementara mereka yang lumpuh perlahan menemukan kembali makna hidup dan kembali bisa tertawa saat sarapan. Seolah-olah, ada sebuah kekuatan tak kasatmata yang selalu menarik kita kembali ke satu titik netral. Kekuatan apa sebenarnya ini?
Untuk menjawab misteri tersebut, kita harus membedah isi kepala kita sendiri. Mari kita berkenalan dengan dopamine. Selama ini, budaya populer sering membuat kita salah paham dengan menganggap dopamine sebagai hormon kebahagiaan. Padahal, sains neurologi membuktikan hal yang jauh berbeda. Dopamine bukanlah molekul tentang rasa puas. Ia adalah molekul tentang antisipasi dan hasrat. Ia adalah bahan bakar evolusioner yang membuat nenek moyang kita di zaman purba mau keluar dari gua yang hangat, menembus badai salju, demi berburu rusa. Otak kita merancang dopamine untuk melonjak drastis saat kita mengejar sesuatu, bukan saat kita mendapatkannya. Ketika rusa sudah ditangkap dan dagingnya dimakan, kadar dopamine akan langsung anjlok. Pertanyaannya, mengapa evolusi merancang sistem yang terdengar agak kejam ini? Mengapa otak kita sengaja menyabotase kebahagiaan jangka panjang kita sendiri sesaat setelah kita mencapai puncak?
Jawabannya mungkin sedikit menyebalkan untuk diakui: otak kita memang tidak pernah dirancang untuk membuat kita bahagia secara permanen. Otak kita hanya dirancang untuk membuat kita bertahan hidup. Di sinilah ilmu sains memperkenalkan kita pada konsep The Hedonic Treadmill atau adaptasi hedonik. Bayangkan kita sedang berlari di atas treadmill. Secepat apa pun kita berlari mengejar pencapaian—harta, tahta, status—kita sebenarnya tetap berada di tempat yang sama. Secara biologis, tubuh kita dikendalikan oleh mekanisme bernama homeostasis, yaitu dorongan alami untuk selalu kembali ke titik keseimbangan dasar. Sama seperti tubuh yang otomatis berkeringat untuk mendinginkan suhu saat kita kepanasan, otak juga dengan cepat "mendinginkan" rasa bahagia yang meledak-ledak agar kita tidak kehilangan kewaspadaan. Coba bayangkan jika manusia purba terus-terusan merasa puas setelah berhasil membunuh satu ekor kelinci. Mereka akan diam saja di dalam gua dan akhirnya mati kelaparan di bulan berikutnya. Jadi, rasa hampa yang tiba-tiba muncul setelah sebuah pencapaian besar bukanlah sebuah kutukan. Itu adalah alarm kuno dari otak kita yang berteriak, "Ayo bergerak lagi, atau kita mati!"
Mendengar kenyataan biologis ini mungkin membuat kita merasa sedikit lelah. Lantas, untuk apa kita capek-capek mengejar impian kalau ujung-ujungnya akan terasa biasa saja? Namun, mari kita ubah sudut pandangnya sejenak, teman-teman. Memahami cara kerja The Hedonic Treadmill justru bisa sangat membebaskan kita. Kita jadi sadar bahwa menggantungkan kebahagiaan pada satu garis finis adalah sebuah ilusi biologi. Kebahagiaan sejati manusia rupanya tidak terletak pada trofi yang kita angkat di akhir pertandingan, melainkan pada tetes keringat saat kita berlari mengejarnya. Karena otak kita memang didesain secara genetis untuk mencintai proses pengejaran, maka cobalah untuk lebih menikmati perjalanannya. Kita mungkin tidak akan pernah bisa turun dari treadmill ini, karena begitulah cara kita menjadi manusia. Namun, kita selalu punya kendali penuh untuk mengatur kecepatannya. Kita bebas untuk melambat sejenak, mengambil napas panjang, menengok ke belakang, dan mensyukuri seberapa jauh kaki kita sudah melangkah hari ini.